Tampilkan postingan dengan label Contoh Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Skripsi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK.DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK

DOWNLOAD SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi : 
Judul : "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF INVESTIGASI KELOMPOK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN GAYA DAN PERCEPATAN"
A. Landasan Teori 
Belajar adalah sesuatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat berlangsung di mana-mana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah dan di masyarakat, baik disadari maupun tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja. 
Menurut WS. Winkel (1989: 36) belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam suatu interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan ini relatif konstan dan berbekas (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:4). 
Hakikat belajar dan mengajar yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar dan mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional, kegiatan mengajar lebih diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Pandangan ini mendorong guru untuk memerankan diri sebagai tukang ajar. Artinya apabila guru mengajar ia lebih mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan serta menuntaskan/menyelesaikan semua materi pelajaran sesuai dengan waktu yang disediakan. Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan pengetahuan oleh siswa sendiri selain peningkatan ketrampilan dan pengembangan sikap positif. Oleh karena itu istilah mengajar yang dianggap berkonotasi “teachers centered” diganti dengan istilah pembelajaran. Diharapkan dengan penggunaan istilah pembelajaran guru akan selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal. 
Sesuai dengan pengertian belajar yaitu bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadi perubahan tingkah laku, maka pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa secara sadar dan sengaja, agar proses belajar dapat berjalan dengan maksimal, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik (TIM MKDK IKIP Semarang, 2000:24). 
Karena pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja, maka pembelajaran itu bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa bertambah, baik kuantitas maupun kualitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. 
Tujuan-tujuan belajar diusahakan untuk dicapai dalam proses atau kegiatan belajar pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan ketrampilan dan sikap siswa akibat dari hasil belajar yang telah dilakukan siswa (Arikunto, 2002: 132). Jadi, apabila tujuan pembelajaran tercapai maka akan nampak pada diri siswa perubahan- perubahan yang meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun ketrampilan. 
Untuk pencapaian tujuan tersebut tidak cukup guru berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir pada setiap KBM. Akan tetapi siswa perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis dalam bentuk percobaan atau penelitian. 

Motivasi belajar siswa dapat berubah-ubah disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor ini bisa bersifat instrinsik maupun ekstrinsik. Yang bersifat intrinsik yaitu kemauan belajarnya lebih kuat dan tidak bergantung pada faktor luar dirinya. Sedangkan yang bersifat ekstrinsik yaitu kemauan belajar sangat bergantung pada kondisi di luar dirinya, namun dalam kenyataanya motivasi ekstrinsik yang sering terjadi. Oleh karena itu upaya menimbulkan dan meningkatkan motivasi belajar khususnya oleh guru, merupakan suatu hal yang perlu dan wajar. 
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut: 
1. Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. 
2. Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. 
3. Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman atau kemampuan yang telah dimiliki oleh siswa. 
4. Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa. 
Dengan upaya-upaya motivasi belajar yang dilakukan di atas, diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu. Jadi, kualitas pembelajaran dapat diartikan sebagai tingkat baik buruknya suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. 
Apabila dicapai kualitas pembelajaran yang baik maka akan dicapai pula hasil belajar yang baik. Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya (Sudjana, 1989:22). Bloom dalam Sudjana membagi tiga ranah hasil belajar yaitu: 
1. Ranah kognitif 
Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. 
2. Ranah Afektif 
Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan internalisasi. 
3. Ranah Psikomotorik 
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir pembelajaran, sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik diukur pada proses pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan siswa. 

Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal, seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, dengan suasana yang tidak membosankan siswa. 
Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan kurikulum 2004, adalah model pembelajaran kooperatif (Suradi, 2004). Pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerja dalam kelompok yang mempunyai tanggung jawab individual maupun kelompok terhadap ketuntasan tugas-tugas. Pada pembelajaran kooperatif, siswa ditempatkan pada kelompok-kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa minggu atau bulan. Mereka berlatih ketrampilan-ketrampilan untuk bekerja sama dengan baik, membantu teman dalam kelompoknya masing-masing. 
Sebenarnya pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Pada awal abad pertama seorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan/teman. Dari situlah ide pembelajaran koopertif itu dikembangkan. Herbert Thelan, mengembangkan prosedur yang lebih tepat untuk membantu siswa bekerja dalam kelompok. Thelan berargumentasi bahwa kelas haruslah merupakan laboratorium atau miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi (Fida Rachmadiarti, 2003:10). 
Adapun ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: 
1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya. 
2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 
3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda. 
4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu. 
Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial (Fida Rachmadiati: 2003: 7). Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu: 
1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 
2) Menyajikan informasi 
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. 
4) Membimbing kelompok bekerja dan belajar 
5) Evaluasi 
6) Memberi penghargaan 
Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama dalam tugas-tugas yang terstruktur (Lie, 2002:17). Setiap anggota kelompok bertanggung jawab tidak hanya untuk mempelajari konsep yang diajarkan, tetapi juga untuk bekerjasama dalam belajar. Keberhasilan individu dalam belajar diorientasikan oleh keberhasilan kelompok. 
Jadi sistem pengajaran cooperatif learning bisa didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk dalam struktur ini ada lima unsur pokok (Johnson&Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan yang positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian kerjasama dan proses kelompok. 
Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif. Investigasi Kelompok adalah salah satunya. Di dalam pembelajaran ini, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif bercirikan penemuan), diskusi kelompok dan perencanaan kooperatif. 
Dalam metode ini, siswa tergabung dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari empat sampai enam anggota. Setelah memilih subtopik dari sebuah topik yang sedang dipelajari seluruh kelas, kelompok-kelompok itu memecahkan 

subtopik mereka. Setiap kelompok kemudian membuat presentasi/peragaan untuk mengkomunikasikan temuanya kepada seluruh kelas. 
Guru yang menggunakan Investigasi kelompok memiliki sedikitnya tiga tujuan, yaitu:(1). Invetigasi Kelompok membantu siswa belajar bagaimana menyelidiki suatu topik secara sistematis dan analitis (proses inkuiri), (2). Pemahaman yang mendalam atas suatu materi, (3). Diskusi belajar bagaimana bekerjasama dalam memecahkan suatu masalah. 
Menurut Sharan dkk.(1984), terdapat enam tahapan Investigasi Kelompok yaitu sebagai berikut: 
1) Pemilihan topik 
Siswa memilih subtopik dari topik yang dipelajari, yang biasanya ditetapkan oleh guru. Dalam hal ini siswa memilih lembar kegiatan yang disediakan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi empat sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis. 
2) Perencanaan kooperatif 
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus tentang subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama. 
3) Implementasi 
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan didalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan ketrampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik didalam maupun diluar sekolah. 
Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan. 



4) Analisis dan sintesis 
Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas. 
5) Presentasi hasil final 
Beberapa kelompok menyajikan hasil penyelidikannya kepada seluruh kelas, dengan tujuan agar siswa yang lain terlibat satu sama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. 
6) Evaluasi 
Siswa dan guru mengevaluasi tiap konstibusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok. 


B. Materi Tentang Gaya dan Percepatan 
1. Pengertian Gaya 
Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan perubahan gerak dan atau bentuk suatu benda. Pengaruh gaya terhadap benda, antara lain sebagai berikut: 
a. Mengubah gerak suatu benda, misalnya benda diam menjadi bergerak. 
b. Mengubah kecepatan benda, misalnya benda yang bergerak lambat didorong tambah cepat. 
c. Mengubah arah gerak benda, misalnya bola yang dipukul oleh pemain 
d. Mengubah bentuk benda, seperti mistar lurus bila ditekan salah satu ujungnya maka mistar akan melengkung. 

2. Macam-macam Gaya 
Berdasarkan penyebabnya, gaya dikelompokkan sebagai berikut: 
a. Gaya mesin, yaitu gaya yang berasal dari mesin 
b. Gaya magnet, yaitu gaya yang berasal dari magnet. 
c. Gaya gravitasi, yaitu gaya tarik yang diakibatkan oleh benda yang memiliki massa (misal: bumi). 
d. Gaya pegas, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh pegas. 
e. Gaya listrik, yaitu gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik. 

Berdasarkan sifatnya, gaya dikelompokkan menjadi dua macam yaitu: 
a. Gaya sentuh 
Gaya sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda di mana titik kerjanya langsung bersentuhan dengan bendanya. Contohnya anatara lain: gaya otot, gaya pegas, gaya mesin, gaya gesekan, dan gaya dorong. 

b. Gaya tak sentuh 
Gaya tak sentuh adalah gaya yang bekerja pada benda dimana titik kerjanya tidak langsung bersentuhan dengan bendanya. Contohnya antara lain: gaya listrik, gaya magnet, dan gaya gravitasi.
3. Satuan gaya 
Dalam satuan SI (Sistem Internasional) gaya dinotasikan dengan F berasal dari kata force yang berarti gaya dan dinyatakan dengan satuan newton (N). 

4. Menggambar Gaya 
Gaya dapat digambarkan dengan sebuah anak panah. Titik pangkal anak panah menyatakan titik tangkap gaya, arah mata anak panah menyatakan arah gaya, dan panjang anak panah menyatakan besarnya gaya. 

Pada gambar di atas sebuah gaya digambarkan dengan anak panah OP. titik O merupakan titik tangkap gaya, mata anak panah P menyatakan arah gaya, dan OP menyatakan besarnya gaya. 
Besaran gaya termasuk besaran vektor karena memiliki nilai atau besar dan arah. 

5. Resultan Gaya 
Jika pada sebuah benda dalam waktu bersamaan bekerja beberapa gaya, gaya-gaya itu dapat dipadukan atau dijumlahkan. Dengan demikian, pada benda bekerja sebuah gaya pengganti yang disebut gaya resultan. 
1. Memadu Gaya Sejajar dan Searah : 
2. Memadu Gaya Sejajar dan Berlawanan Arah 

6. Gaya Gesekan
 Gaya gesekan adalah gaya yang timbul karena gesekan permukaan dari dua benda atau lebih. 
Gaya gesekan dibagi menjadi dua macam berikut ini. 
1. Gaya gesekan gesekan statis, yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda dalam keadaan diam atau hampir bergerak. Arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan atau dorongan) yang bekerja pada benda tersebut, disimbolkan fs. 
2. Gaya gesekan kinetis, yaitu gaya gesekan yang bekerja pada benda bergerak, arahnya berlawanan dengan gaya (tarikan dan dorongan) yang bekerja pada benda tersebut, disimbolkan fk. 

7. Gaya Berat
 Berat dan massa mempunyai pengertian yang berbeda. Massa adalah banyaknya zat yang dikandung oleh suatu benda. Massa benda di mana-mana besarnya selalu tetap. 
Berat benda adalah besarnya gaya gravitasi yang bekerja pada benda. Besarnya gaya gravitasi bergantung pada letak benda atau ketinggian benda dari planet yang menimbulkan gaya gravitasi. Misalnya, berat benda di bumi sama dengan besarnya gaya gravitasi bumi pada benda. Berat benda di bulan sama dengan besarnya gaya gravitasi bulan pada benda.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan landasan teori di atas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah “Penerapan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Konsep Gaya dan Percepatan”. 

Key word : download skripsi terbaru lenkap. gratis, skripsi fisika terbaru, download contoh skripsi fisika full.

Selasa, 03 April 2012

CONTOH SKRIPSI FISIKA PEMANFAATAN SOFTWARE.DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA PEMANFAATAN SOFTWARE.DOC

DOWNLOAD CONTOH SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi :

Judul : “PEMANFAATAN  PHYSIC 101 SE PORTABLE EDITION 7.0 SEBAGAI UPAYA MENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR FISIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP).”

A. Latar Belakang Masalah
Pemilihan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar tergantung pada tujuan pengajaran, jenis tugas, dan respon yang diharapkan dapat dikuasai siswa setelah pengajaran berlangsung, serta konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Sedangkan salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang diciptakan dan ditata oleh guru.
Pada tahun-tahun belakangan ini, komputer mendapatkan perhatian besar dalam kegiatan pembelajaran/instruksional (CAI atau Computer Assisted Instruction), dengan kecepatan penguasaan materi yang dapat diatur sendiri oleh pemakainya. Karena komputer nampaknya sangat cocok untuk belajar secara individual, pengembangannya sebagai alat instruksional sangat dipengaruhi oleh kemajuan pembelajaran terprogram. Menurut Ronald H. Anderson (dalam Y. Miarso dkk 1994:199), biasanya CAI digunakan berpasangan dengan CMI (Computer Managed Instruction) yang perannya semakin meluas, seperti: pembinaan bantuan dalam penyusunan tes, meyakinkan keamanan materi pelajaran, dan membantu menganalisis hasil maupun isi pelajaran.
Maraknya pameran-pameran komputer di berbagai kota akhir-akhir ini, situs-situs internet yang bertema IT  (Information of Technology), serta merebaknya Lembaga Pendidikan Komputer yang menawarkan program- program pendidikan yang menarik bagi berbagai kalangan usia, menunjukkan betapa tingginya minat masyarakat terhadap dunia komputer. Hal ini merupakan suatu peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi para praktisi untuk membuat program-program pendidikan yang menarik dan interaktif. (Wahana Komputer, 2004). Kemajuan di bidang sains dan teknologi, khususnya bidang komputasi pada era globalisasi ini sudah merebak ke segala bidang sehingga kehadiran teknologi komputasi ini tak bisa dihindari lagi, termasuk di bidang pendidikan Fisika (Susilo, 1998).
Peningkatan kualitas pembelajaran berhubungan dengan upaya membangun komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa yang melibatkan aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Dari hasil observasi pada siswa  yang menyukai mata pelajaran fisika hanya 40% dari jumlah siswa dikelas 10. Persentase kurang dari 50% ini menggambarkan bahwa motivasi siswa ketika mengikuti pembelajaran siswa belum memuaskan. Hal ini diantaranya disebabkan karena kurang bervariasi media yang digunakan dalam proses belajar.
Dalam kurikulum berbasisis kompetensi, salah satu kompetensi guru yang harus ditingkatkan adalah kemampuan dalam menggunakan media pembelajaran. Para guru dapat bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyediakan media pembelajaran ini. Guru sendiri dapat mempelajari berbagai  software untuk dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan para siswanya. Salah satu software yang dapat dimanfaatkan adalah Software Physic 101 SE Portable edition 7.0.
Berdasarkan pemikiran di atas peneliti bermaksud mengadakan Pemanfaatan  Physic 101 SE Portable Edition 7.0 Sebagai Upaya  Meningkatakan Motivasi Belajar Fisika Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini, yaitu “Apakah pemanfaatan Physic 101 SE Portable Edition 7.0 dapat meningkatkan motivasi belajar siswa?”

C. Pembatasan Masalah
Supaya lebih fokus, permasalahan dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Software ini digunakan untuk siswa sekolah menengah pertama kelas VII.
2. Apakah media/program yang digunakan sesuai dengan standar atau Kriteria kelayakan media pembelajaran?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah
1. Memanfaatkan Physic 101 SE Portable Edition 7.0 sebagai upaya  Meningkatkan Motivasi Belajar Fisika Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).
2. Menguji  kelayakan  media  (program) melalui uji coba pada siswa SMP.

E. Manfaat
1. Bagi sekolah sebagai informasi dalam rangka meningkatkan Motivasi, efektivitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran.
2. Bai guru-guru selaku pendidik sebagai strategi pembelajaran bervariasi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sisitem pembelajaran dikelas, serta membantu guru menciptakan kegiatan belajar yang menarik.
3. Bagi siswa dapat meningkatkan minat belajar sains melalui aktivitas laboratorium, keaktivan siswa dlam proses pembelajaran sehingga siswa lebih mendalami konsep yang sedang dipelajari.
4. Bagi peneliti digunakan untuk menambah pengetahuan dalam membekali diri sebagai calon guru fisika yang memperoleh pengalaman penelitian secara ilmiah agar kelak dapat dijadikan modal guru dalam belajar.


TAGS : CONTOH SKRIPSI FISIKA GRATIS, CONTOH SKRIPSI FISIKA LENGKAP, DOWNLOAD SKRIPSI FISIKA, PEMANFAATAN SOFTWARE.

Rabu, 14 Maret 2012

CONTOH SKRIPSI BAHASA JAWA.DOC

CONTOH SKRIPSI BAHASA JAWA.DOC

DOWNLOAD SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi :

Judul : “Struktur Novel “Tunggak-Tunggak Jati” Karya Esmiet”.


A. Latar Belakang
Karya sastra adalah fenomena unik. Di dalamnya penuh serangkaian makna dan fungsi. Bahasa sastra  berbeda dengan bahasa ilmu pengetahuan, karena bahasa sastra bersifat imajinasi. Karya sastra  diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat, salah satunya berbentuk novel, di dalam novel cerita yang di sajikan dari awal sampai akhir cerita. Unsur-unsur pembangun fiksi di dalam novel, itu meliputi, tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan satu sama lain, sehingga novel menjadi berwujud.
Esmiet melalui novel tunggak-tunggak jati menceritakan seorang gadis, anak sodagar kaya, yang dicintai oleh pemuda (anak dari pesuruh orang tua si gadis), tetapi setelah pemuda itu menjadi seorang insinyur, gadis tersebut sudah tidak cinta lagi, karena hanya akal-akalan Bapak si Gadis, karena takut kehilangan harta benda.Karya sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dalam kehidupan nyata. Berdasarkan uraian di atas penulis memeilih “Struktur novel tunggak-tunggak jati” karya Esmiet dengan alasan sebagai berikut:
1. Memberikan pemahaman kepada pembaca akan pentingnya unsur-unsur struktur karya sastra, yang membentuk novel “tunggak-tnggak jati”.
2. Novel “tunggak-tunggak jati” merupakan novel Jawa modern, menggunakan bahasa Jawa ngoko campuran, agar pembaca tidak akan kesulitan untuk memahami novel tersebut.

B. Penegasan Istilah
Skripsi ini berjudul “tunggak-tunggak jati” karya Esmiet, berkaitan dengan judul skripsi terrsebut, penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang terrdapat dalam judul skripsi tersebut agar pembaca mendapat gambaran yang jelas dan lengkap dari penelitian itu.
1. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (KBBI,1999:694).
2. Struktural juga disebut sebagai segi-segi intrinsik, yakni unsur-unsur yang membangun fiksi dari dalam. Artinya yang benar-benar ada dalam karya tersebut. Unsur-unsur itu terdiri dari perwatakan, tema dan amanat, alur atau plot, latar dan gaya bahasa, pusat pengisahan (Baribin, 1985: 53).
3. Tunggak-tunggak jati adalah salah satu novel berbahasa Jawa karya Esmiet, diterbitkan oleh  Pustaka Jaya, cetakan pertama tahun 1997, dengan tebal 99 halaman.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang penulis rumuskan dalam penelitian ini adalah  sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tema, tokoh dan penokohan serta latar dalam novel “tunggak-tunggak jati”.

D. Tujuan dan Kegunaan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin di capai dalam penelitian terhadap struktur karya sastra novel “tunggak-tunggak jati”.
1. Mendikripsikan struktur pembangun novel “tunggak-tunggak jati”.
2. Kegunaan Penelitian
    a. Segi Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca khususnya isi novel “tunggak-tunggak  jati”, karya Esmiet dan unsur-unsur struktur karya sastra yang membangunnya.
    b. Segi Praktis
Dengan penelitian ini diharapkan pembaca dapat menambil pesan moral yang di sampaikan pengarang melalui novel “tunggak-tunggak jati”.



CONTOH SKRIPSI FISIKA PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD .DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA  PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD .DOC

DOWNLOAD SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi :

Judul : “PENINGKATAN INTERPERSONAL SKILL MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DEVISION) PADA SISWA SMP N 1  BANJARNEGARA TAHUN PELAJARAN 2011/2012”.

A. Latar Belakang Masalah
   Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Muhhibin Syah, 2010: 87). Menurut Sujarwo dalam Suryosubroto (2010: 188-189), permasalahan atau hambatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran dapat disebabkan berbagai komponen. Komponen-komponen pembelajaran tersebut adalah kemampuan pendidik dalam pengajaran (pendidik), pihak yang diberi materi pelajaran (peserta didik), bahan yang diajarkan (bahan ajar), proses pembelajaran (strategi, metode, teknik mengajar), sarana dan prasarana belajar serta sistem evaluasi yang diterapkan. Masing-masing komponen tersebut saling mempengaruhi dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran.
       Secara praktis, faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran di antaranya adalah kurangnya perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan. Sebagian besar peserta didik malas diajak berpikir analisis pada materi pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya sikap pasif, apatis, kurang peduli dan masa bodoh dari peserta didik. Namun demikian, dapat dipahami bahwa munculnya tanda-tanda rendahnya keterkaitan peserta didik terhadap suatu pelajaran, sumber kesalahannya tidak hanya terletak pada peserta didik. Pelu disadari, bahwa keberhasilan dan kegagalan suatu pendidikan atau pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh seluruh komponen yang ada, baik itu pendidik, peserta didik, bahan ajar, proses belajar, tempat dan waktu belajar dan kelengkapan sarana serta prasarana. Berangkat dari kondisi tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang memungkinkan berkembangnya kemampuan berpikir kritis agar mencapai prestasi belajar yang memuaskan (Suryosubroto, 2010:190).
       Pendekatan pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih pendidik dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik dalam menuju tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Alwi Suparman (1999: 57) dalam Suryosubroto (2010: 195)  bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, peserta didik, peralatan, bahan dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan pembelajaran, pendidik dituntut memiliki kemampuan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat. Kemampuan tersebut sebagai sarana serta usaha dalam memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan program pembelajaran. Untuk menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran, hendaknya berangkat dari perumusan tujuan yang jelas. Setelah tujuan pembelajaran ditentukan, kemudian memilih pendekatan pembelajaran yang dipandang efisien dan efektif. Suatu pendekatan pembelajaran dikatakan efektif dan efisien apabila metode tersebut dapat mencapai tujuan dengan waktu yang lebih singkat dari pendekatan yang lain. Kriteria lain yang perlu diperhatikan dalam memilih pendekatan pembelajaran adalah tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.
      Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi (Suryosubroto, 2010: 1). Bagaimana kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya, menurut Raka Joni dalam Karso (1993: 186) mengungkapkan bahwa secara operasional di dalam bentuk pelaksanaannya, pendidikan telah diciutkan menjadi tidak lebih dari upaya pemberian informasi, yang penguasaannya ditagih melalui ujian yang terutama memprasyaratkan hafalan. Hal ini mendorong timbulnya pemikiran baru untuk memperbaiki proses pembelajaran di sekolah. Pemikiran ini mengarah pada perlunya penerapan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan luas kepada para siswa untuk berlatih dan belajar mandiri dan melibatkan partisipasi siswa secara optimal dalam proses pembelajaran (Suryosubroto, 2010: 188).
       Hasil wawancara dengan guru kelas VIII SMP N 1 Banjarnegara, menunjukkan adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru yaitu kurangnya keterampilan berpikir kritis siswa sehingga proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah. Permasalahan ini terlihat dari kurangnya kemauan siswa untuk mengumpulkan informasi serta mencari jawaban ketika guru memberikan permasalahan. Kalaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya, sedikit sekali yang melakukannya. Hal ini karena siswa masih takut atau bingung mengenai apa yang akan ditanyakan. Selain itu siswa kurang terlatih dalam mengembangkan ide-idenya di dalam memecahkan masalah. Siswa masih minder atau pasif, belum mampu berpikir kritis dan belum berani mengungkapkan pendapat.
       Pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) atau Problem Solving. Problem Solving memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Wina Sanjaya, 2009: 214). Tujuan yang ingin dicapai oleh Problem Solving adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: “Pemanfaatan Model Pembelajaran Problem Solving Untuk Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Di Kelas VIII A SMP N 1 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2011/2012”.





CONTOH SKRIPSI FISIKA PROBLEM SOLVING.DOC

CONTOH SKRIPSI FISIKA PROBLEM SOLVING.DOC

DOWNLOAD SKRIPSI FULL KLIK DISINI
Cara download : Klik link - Tunggu 5 Detik klllik SKIPAD pojok kanan atas.

Gambaran Skripsi :

Judul : “PEMANFAATAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA DI KELAS VIII A SMP N 1 BANJARNEGARA TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. 

A. Latar Belakang Masalah
       Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri (Muhhibin Syah, 2010: 87). Menurut Sujarwo dalam Suryosubroto (2010: 188-189), permasalahan atau hambatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran dapat disebabkan berbagai komponen. Komponen-komponen pembelajaran tersebut adalah kemampuan pendidik dalam pengajaran (pendidik), pihak yang diberi materi pelajaran (peserta didik), bahan yang diajarkan (bahan ajar), proses pembelajaran (strategi, metode, teknik mengajar), sarana dan prasarana belajar serta sistem evaluasi yang diterapkan. Masing-masing komponen tersebut saling mempengaruhi dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran.
       Secara praktis, faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran di antaranya adalah kurangnya perhatian peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diberikan. Sebagian besar peserta didik malas diajak berpikir analisis pada materi pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya sikap pasif, apatis, kurang peduli dan masa bodoh dari peserta didik. Namun demikian, dapat dipahami bahwa munculnya tanda-tanda rendahnya keterkaitan peserta didik terhadap suatu pelajaran, sumber kesalahannya tidak hanya terletak pada peserta didik. Pelu disadari, bahwa keberhasilan dan kegagalan suatu pendidikan atau pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh seluruh komponen yang ada, baik itu pendidik, peserta didik, bahan ajar, proses belajar, tempat dan waktu belajar dan kelengkapan sarana serta prasarana. Berangkat dari kondisi tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang memungkinkan berkembangnya kemampuan berpikir kritis agar mencapai prestasi belajar yang memuaskan (Suryosubroto, 2010:190).
       Pendekatan pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih pendidik dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik dalam menuju tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Alwi Suparman (1999: 57) dalam Suryosubroto (2010: 195)  bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, peserta didik, peralatan, bahan dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan pembelajaran, pendidik dituntut memiliki kemampuan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat. Kemampuan tersebut sebagai sarana serta usaha dalam memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan program pembelajaran. Untuk menentukan dan memilih pendekatan pembelajaran, hendaknya berangkat dari perumusan tujuan yang jelas. Setelah tujuan pembelajaran ditentukan, kemudian memilih pendekatan pembelajaran yang dipandang efisien dan efektif. Suatu pendekatan pembelajaran dikatakan efektif dan efisien apabila metode tersebut dapat mencapai tujuan dengan waktu yang lebih singkat dari pendekatan yang lain. Kriteria lain yang perlu diperhatikan dalam memilih pendekatan pembelajaran adalah tingkat keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.
      Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi (Suryosubroto, 2010: 1). Bagaimana kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya, menurut Raka Joni dalam Karso (1993: 186) mengungkapkan bahwa secara operasional di dalam bentuk pelaksanaannya, pendidikan telah diciutkan menjadi tidak lebih dari upaya pemberian informasi, yang penguasaannya ditagih melalui ujian yang terutama memprasyaratkan hafalan. Hal ini mendorong timbulnya pemikiran baru untuk memperbaiki proses pembelajaran di sekolah. Pemikiran ini mengarah pada perlunya penerapan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan luas kepada para siswa untuk berlatih dan belajar mandiri dan melibatkan partisipasi siswa secara optimal dalam proses pembelajaran (Suryosubroto, 2010: 188).
       Hasil wawancara dengan guru kelas VIII SMP N 7 Banjarnegara, menunjukkan adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru yaitu kurangnya keterampilan berpikir kritis siswa sehingga proses pembelajaran hanya berlangsung satu arah. Permasalahan ini terlihat dari kurangnya kemauan siswa untuk mengumpulkan informasi serta mencari jawaban ketika guru memberikan permasalahan. Kalaupun siswa diberi kesempatan untuk bertanya, sedikit sekali yang melakukannya. Hal ini karena siswa masih takut atau bingung mengenai apa yang akan ditanyakan. Selain itu siswa kurang terlatih dalam mengembangkan ide-idenya di dalam memecahkan masalah. Siswa masih minder atau pasif, belum mampu berpikir kritis dan belum berani mengungkapkan pendapat.
       Pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) atau Problem Solving. Problem Solving memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Wina Sanjaya, 2009: 214). Tujuan yang ingin dicapai oleh Problem Solving adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: “Pemanfaatan Model Pembelajaran Problem Solving Untuk Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Di Kelas VIII A SMP N 7 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2011/2012”.


TAGS : CONTOH SKRIPSI FISIKA GRATIS, CONTOH SKRIPSI FISIKA LENGKAP, DOWNLOAD SKRIPSI FISIKA, PROBLEM SOLVING.